Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Agustus 2013

TERATAI DANAU MAKALEHI (Puisi Iverdixon Tinungki)

Bila hamparan teratai ini begitu indah
mungkinkah surga berwarna jingga
memantulkan gema gelombang danau
ke rimbun dedaunan kapuk sebentar lagi lapuk

Bunga bunga dan daun akan susut
seperti hidup punya waktu lisut
yang terhampar abadi bagai surga
adalah warna kenangan melampaui usia

Sejak dulu orang pulau menitipkan penat keringat disini
sesekali membasuh pedih hingga akar teratai menjadi gemuk
oleh kisah saman dipenuhi sayatan, luka lalu, kini dan masa depan
mungkin sudah sedemikian dalam tergenang
hingga teratai menawarkan pemandangan makam

Dalam sejarahnya danau ini mungkin kumpulan air mata turun dari puncak Sanggelawo dan delapan puncak
mitos laga Onding menyergap bajak laut
burung kemba piawai mengintai ikan
tak lupa meniti cabang cabang sejarah
bersurai bagai lelaki rentah

Aku mendengar sayup dengus nafas berkecamuk
orang orang ini, terbata bata berjalan mengelilingi danau
sambil melihat teratai tumbuh bagai selendang
terjurai di kaki abad yang selalu mengenakan jubah hitam

Pepohonan yang tegak pun kedinginan
menyaksikan air danau sebegitu tua menyimpan tangisan.

Kamis, 08 Agustus 2013

MAKALEHI ( Puisi Iverdixon Tinungki)

Samudera selalu mengkoreografikan
teduh dan amuknya dalam sejarah yang pecah
menjadi sembilan kaldera memagari danau mati di dada pulau jauh dan sendiri

aku berkayuh diatas air danau mati pulau ini
kutemukan detak nadi Makalehi
seperti seekor bangau putih bernyanyi buat kekasih
diatas hamparan bunga teratai berwarna jingga wangi

wangi siapa mendupa danau tak pernah bertemu laut ini ?
kalau bukan wangi kekasih lesap tergenang air matanya sendiri
karena antara rindu dan mimpi selalu ada tepi tak bisa diraih

lalu aku berangkat ke Tenggohang, Dumpis,
Sanggilehe, Sawang Meraki, Sanggelawo
Kuhita, Sawanto, Batuwenahe
disembilan bukit itu kubaca jejak perjalanan capung
ia menenun danau dalam sayapnya berwarna maron
kemudian disesapnya nektar sajak mercusuar
menjadi serat serat sinar buat laut
yang terus menganyam pijar gelombang

orang orang datang menemukan Makalehi
dalam perahu penuh ikan demersal palagis
dikail dipukat dalam kisah abad
terus bergerak dalam arus pasifik deras asin

di pesisir gadis gadis memandang matahari jatuh di air
Makalehi tersenyum
dimata mereka melukis mata angin
sedang menyusun sayap sayap angsa lebih putih dari awan

andai kekasih itu datang pada suatu pagi
danau kini tertawan bisa menemukan jalan ke laut lebih dalam